Tarik Ulur Bunga Kredit

ban14Suku bunga kredit perbankan Indonesia masih belum bergerak kendati Bank Indonesia sudah menurunkan suku bunga acuan (BI rate) sebesar 25 basis poin menjadi 7,25 persen. Seiring dengan turunnya biaya dana, bunga kredit seharusnya bisa segera turun.

Penurunan bunga kredit diperlukan untuk meningkatkan daya saing sektor riil, baik di pasar domestik maupun di pasar global. Industri perbankan nasional bisa menunjukkan dukungan terhadap perekonomian nasional melalui melalui penurunan bunga kredit. Dukungan itu diperlukan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 5,3 – 5,5 persen pada tahun 2016.

Inilah momen yang tepat untuk mendorong perekonomian. Pertumbuhan ekonomi yang melambat sejak tahu 2011 sudah mencapai titik nadir pada triwulan II-2015 dengan realisasi pertumbuhan 4,76 persen. Pada triwulan III-2015, pertumbuhan ekonomi sudah berbalik arah dengan realisasi 4,73 persen. Data realisasi pertumbuhan ekonomi  pada triwulan IV-2015  belum keluar, tetapi banyak pihak yakin angkanya akan jauh lebih baik dibandingkan dengan realisasi triwulan III.

Pada triwulan IV, belanja pemerintah sudah ekspansif. Hal ini mendorong kegiatan ekonomi yang lebih besar di sektor riil. Secara kasat mata, kegiatan ekonomi menjelang akhir tahun juga makin atraktif karena ada libur cukup panjang dari sebelum Natal hingga Tahun Baru 2016. Kemeriahan  belanja di sektor ritel dan keramaian di tempat-tempat wisata menjelang akhir tahun menjadi salah satu indicator makin kuatnya kegiatan ekonomi di sektor riil.

Namun, sektor perbankan belum juga menurunkan bunga kredit. Padahal, penurunan bunga sudah ditunggu oleh sektor riil yang ingin berekspansi, mengantisipasi peningkatan permintaan barang dan jasa seiring dengan kegiatan ekonomi yang makin kuat.

Tarik ulur penurunan bunga kredit ini berkutat pada perdebatan mengenai biaya dana. Sejumlah bankir masih melihat bahwa kondisi likuiditas hingga akhir triwulan I-2016 ini masih akan ketat karena kegiatan ekonomi yang dipicu dari belanja pemerintah  baru saja mulai. Mesin ekonomi yang belum panas tersebut menyebabkan likuiditas rupiah masih terbatas.

Akibatnya, walaupun BI rate sudah turun, beberapa bank belum berani menurunkan bunga simpanan supaya nasabah tetap tertarik menempatkan dana. Dampak ikutannya adalah jeda untuk penurunan bunga kredit akan makin lama.

Namun, sejumlah bankir lain justru yakin bahwa kondisi likuiditaspada triwulan I-2016 akan longgar sehingga  ruang penurunan bunga simpanan terbuka lebar. Perbedaan poyeksi mengenai likuiditas ini menyebabkan penurunan bunga simpanan akan perlu waktu lagi karena bank saling menunggu. Bank khawatir, nasabah akan memindahkan dana jika bunga simpanan turun.

Bank-bank besar yang mendominasi penghimpunan dana pihak ketiga sebetulnya memiliki daya tawar cukup tinggi untuk menurunkan bunga simpanan. Setelah suku bunga acuan BI turun, bunga indikasi pinjaman tanpa agunan di pasar uang antar bank (PUAB) sudah turun signifikan di kisaran 25 basis poin.

Aturan Otoritas Jasa Keuangan mengenai batas atas bunga deposito sebesar 200 basis poin di atas suku bunga acuan BI untuk deposito diatas Rp 2 miliar pada perbankan dengan modal inti diatas Rp 30 triliun akan membantu. Demikian juga pembatasan 250 basis poin diatas suku bunga acuan BI untuk deposito diatas Rp 2 miliar pada perbankan dengan modal inti Rp 5 triliun – Rp 30 triliun. Penurunan bunga  pinjaman di pasar uang dan pembatasan bunga deposito akan membantu bank menurunkan biaya dana. Jika mengacu pada hal ini, penurunan bunga kredit seharusnya sudah bisa dilakukan pada triwulan II-2016.

Sumber : Kompas 22/01/2016