Bank Harapan Sentosa

Bank Harapan Sentosa

Bank Harapan Sentosa (BHS) sebagai salah satu dari 16 Bank Dalam Likuidasi (BDL) yang dicabut izinnya pada tanggal 1 November 1997, memiliki asset sebesar Rp 4.3 trilyun, sejak tahun 1995 mendapat predikat paling ekspansif dalam menyalurkan kredit. BHS dimiliki oleh Hendra Rahardja yang merupakan adik kandung dari Eddy Tanzil pengemplang kredit sebesar Rp. 1.3 trilyun dari Bapindo. Dalam menjalankan usahanya Hendra Rahardja banyak melakukan intervensi sehingga mengakibatkan pengelolaan bank menjadi tidak prudent dimana penyaluran kredit pada tahun 1997 yang mencapai Rp. 3.03 trilyun banyak diberikan kepada kelompok usahanya sendiri. BHS sejak tahun 1996, diketahui melampaui Batas Maksimal Pemberian Kredit [BMPK] dengan memberi pinjaman kepada pihak terkait rata-rata 100% lebih dari modalnya. Ini terlihat dari laporan keuangan 1996 dimana bank ini memberikan kredit pada pihak terkait sebesar Rp 279 miliar atau 134,3% dibandingkan modal setor yang hanya Rp 207 miliar. Direksi tak memiliki nyali untuk menolak keinginan Hendra Rahardja yang menguasai 38,40% saham BHS. Selain sebagai pemilik, Hendra bertindak sebagai Komisaris Utama.

Konon menurut hasil investigasi BPK, BHS menerima dana BLBI mencapai Rp 3,87 triliun. Dari jumlah tersebut yang sempat ditarik oleh negara hanya Rp180 miliar, sehingga kewajiban BLBI yang tersisa mencapai Rp 3,69 triliun. Atau dengan kata lain total aset dibandingkan dengan kewajiban BLBI hanyalah 16% dengan tingkat recovery rate sebesar 4,65%.

Penutupan Bank Harapan Sentosa disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :

  1. Kredit macet karena :
    1. Pemberian kredit yang melanggar BMPK kepada groupnya sendiri
    2. Pemegang saham intervensi terhadap pemberian kredit
  2. Penarikan besar-besaran simpanan dana masyarakat (rush) sehingga bank mengalami kesulitan likuiditas (16 BDL masing-masing menerima Bantuan Likuiditas Bank Indonesia / BLBI).

Kinerjabank.com/reiner