Analisa Kinerja Keuangan BANK MANDIRI SYARIAH Maret 2016

Analisa kinerja keuangan BANK SYARIAH MANDIRI per 31 Maret 2016

Analisa keuangan BANK SYARIAH MANDIRI dilakukan berdasarkan data bank  (bank only) dari laporan keuangan triwulanan per 31 Maret 2016.  Adapun kinerja keuangan berdasarkan laporan keuangan triwulanan tersebut menunjukkan kondisi sebagai berikut:

Pada kwartal 1 2016, capital BANK SYARIAH MANDIRI mencapai Rp. 6,40 triliun meningkat sebesar 20,82% dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan modal ini  karena adanya suntikan modal dari induk perusahaan Bank Mandiri sebesar Rp. 500 miliar sehingga  modal di setor BANK SYARIAH MANDIRI mejadi Rp. 1,99 triliun, dan  modal inti menjadi Rp. 5,42 triliun. Pasca  penambahan modal ini, BANK SYARIAH MANDIRI menyandang predikat bank syariah pertama yang naik kelas ke kategori bank umum kegiatan usaha (BUKU) III.  Dikatakan oleh manajemen BANK SYARIAH MANDIRI bahwa penambahan akan memperkuat  modal guna menopang pertumbuhan bisnis di semua lini tahun 2017.

Pada 31 Maret 2016 ATMR yang mempunyai risiko kredit, risiko operasional dan risiko pasar meningkat sebesar 6,63%. CAR naik 15,24% menjadi 13,38% dibanding tahun 2015 dan tetap diatas ketentuan CAR minimum Bank Indonesia sebesar 8% sampai dengan 14% sesuai dengan peringkat kesehatan dan profil risiko bank.

Rasio capital to total asset tahun 2015-2016 naik 19,49% menjadi 8,96%. Rasio ini menunjukkan coverage equity dalam menyerap kerugian terhadap total asset meningkat dari kwartal 1 2015 yang sebesar 7,21%.

Rasio modal inti atau tier 1 capital terhadap total capital 31 Maret 2016 tergolong baik dengan trend menaik, dan berada diatas level normal 80%.

Secara umum, kondisi permodalan BANK SYARIAH MANDIRI tergolong kuat dengan level quality CAR  berada diatas ketentuan minimum Bank Indonesia, dengan didukung oleh porsi tier 1 capital yang berada diatas 80%

Total asset BANK SYARIAH MANDIRI per 31 Maret 2016 naik sebesar  1,65% menjadi Rp. 71,54 triliun dibanding 31 Desember 2015, seiring dengan tumbuhnya   pemberian kredit sebesar 0,12% dari Rp. 66,41 triliun menjadi Rp.66,50 triliun.

Pemberian kredit per 31 Maret 2016 yang naik tipis sebesar 0,12% sehubungan dengan ketatnya pemberian pembiayaan karena sektor riil yang belum pulih. Bila dilihat dari rasio NPF Gross tiga bulan pertama 2016 sebesar 6,42%, kualitas asset menurun sebesar minus 5,45% dibanding tahun 2015 yang sebesar 6,77%.  Rasio CKPN terhadap aset produktif menunjukkan bahwa aset produktif bermasalah kwartal pertama 2016 relatif kecil yaitu 3,13% dengan trend menurun, dan rasio  NPF net sebesar 4,32%, masih berada di bawah ketentuan Bank Indonesia yaitu maksimal 5%.

Rasio loan loss provision to gross loan per 31 Maret 2016 sebesar 1,32% dan periode tahun sebelumnya  2015 sebesar 1,30% menunjukkan bahwa biaya kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment) dibandingkan dengan total kredit meningkat tipis sebesar1,09%.

Rasio pemenuhan PPA (penyisihan penghapusan aset) kwartal  I tahun 2015 – 2016 berada diatas 100%. Yang berarti penyediaan pencadangan kuat, dan mencerminkan kebijakan pencadangan BANK SYARIAH MANDIRI yang prudent.  Dengan rasio tersebut menunjukkan bahwa potensi kerugian karena non performing asset sepenuhnya tercover dari penyisihan penghapusan aset yang dibentuk.

Secara umum, kualitas asset  BANK SYARIAH MANDIRI tergolong baik karena rasio NPF di bawah ketentuan Bank Indonesia dan coverage ratio atas aset bermasalah berada diatas 100%.

Total profit atau laba 31 Maret 2016 naik sebesar 46,65% dibanding periode yang sama tahun 2015. Hal ini menunjukkan meningkatnya kemampuan mengenerate income, dan tercermin pada ROE yang meningkat sebesar 25,22%. Namun rata-rata ROE kwartal I tahun 2015 dan 2016 masih berada diatas quality level 8% (rata-rata suku bunga deposito). Ini mencerminkan efektifitas permodalan BANK SYARIAH MANDIRI dalam menciptakan laba belum cukup optimal.

Rasio ROA BANK SYARIAH MANDIRI selama periode kwartal I 2015 – 2016 menunjukkan trend menaik yaitu dari 0,44%  menjadi 0,56% dan berada pada angka yang dinilai masih belum optimal karena di bawah quality level 1%.

Rasio BOPO dari 31 Maret 2015 - 2016 turun sebesar 1,54% yaitu  dari  95,92% menjadi 94,44%. Namun angka rasio ini dinilai kurang bagus karena di atas batas normal 70%. Rasio ini mencerminkan tingkat efisiensi biaya operasional untuk pos kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment) dan beban lainnya masih  cukup besar dibandingkan dengan pendapatan operasional.

Demikian juga, rasio  biaya operasional non bunga dibandingkan total aset per 31 Maret 2015 - 2016 naik sebesar 7,07% yaitu dari 5,48% menjadi 5,87%, dan berada di atas angka normal 3.50%. Sementara,  berdasarkan perhitungan rasio biaya operasional dibanding pendapatan bunga naik tipis sebesar 0,60% dari 65,73% menjadi 66,12%, angka ini  berada di atas batas 50%, yang berarti pengelolaan biaya operasional dinilai belum cukup efisien.

Net imbalan BANK SYARIAH MANDIRI selama 2 tahun terakhir relatif stabil diatas 6% dengan kecenderungan meningkat yaitu kwartal I 2015 sebesar 6,08% dan 2016 sebesar 6,49%. Angka rasio ini dinilai baik karena berada di atas quality level yaitu lebih besar dari 3%.

Rasio funding cost masih sangat bagus, dengan trend menurun yaitu tahun 2015 sebesar  4,16% dan tahun 2016 sebesar 3,82%, seiring dengan penurunan BI rate menjadi 7.00% pada Februari 2016. Penurunan angka rasio ini berarti turunnya funding cost atau beban bunga sebesar minus 8,11%.

Pendapatan fee based income dari provisi komisi menurun signifikan tahun 2015 – 2016 yaitu dari 0,01% menjadi 0,00%, yang berarti pendapatan operasional dari komisi/provisi/fee dan administrasi  relatik sangat kecil kontribusinya dalam laba perseroan.

Secara umum kondisi profitabilitas dan efesiensi BANK SYARIAH MANDIRI tergolong cukup baik dengan didukung struktur biaya dana murah.

Customer deposit pada kwartal I 2016 naik tipis  sebesar 1,66% dari Rp. 62,11 triliun menjadi Rp. 63,16 triliun. Kenaikan dana pihak ketiga ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap BANK SYARIAH MANDIRI masih cukup tinggi. Dan deposito masih mendominasi dana pihak ketiga pada dua tahun terakhir, dimana low cost deposit berada di kisaran 47% dengan trend menurun.

Rasio financing to deposit ratio  pada tiga bulan pertama 2016 menurun dibanding tahun 2015 menjadi 80,16% dari sebelumnya 81,45%. Penurunan ini karena kenaikan DPK tahun 2016 lebih besar (1,66%) daripada kenaikan pembiayaan (0,12%). Rasio  BANK SYARIAH MANDIRI tahun 2016 masih cukup untuk ekspansi pembiayaan namun tetap perlu diikuti peningkatan dana pihak ketiga agar tidak melampaui ambang batas maksimal 92%.

Rasio liquid asset terhadap total asset selama periode tiga bulan pertama  2015-2016 mencapai sebesar 25,32% dan 27,21% dengan kecenderungan meningkat. Angka rasio ini mencerminkan ketersediaan likuid asset cukup memadai karena berada diatas angka normal 20% sebagai reserve untuk mendukung likuiditas. Demikian juga rasio likuid aset terhadap dana pihak ketiga kwartal pertama tahun 2015 - 2016 yang sebesar 28,68% dan 30,82% sangat memadai untuk ketersediaan likuiditas.

Rasio interbank 31 Maret 2015 – 2016 meningkat cukup signifikan sebesar 39,38% dari 129,05% menjadi 212,90%. Angka rasio diatas 100% berarti memiliki peran sebagai net lender di interbank money market atau pinjaman antar bank, yang berarti BANK SYARIAH MANDIRI mempunyai likuiditas yang berlebih dan menempatkan excess fundnya di interbank.

Secara umum likuiditas BANK SYARIAH MANDIRI tergolong memadai dilihat dari financing to deposit ratio yang berada di bawah 92% dan didukung oleh level of liquid asset yang cukup.

Summary
Kondisi keuangan BANK SYARIAH MANDIRI kwartal I  2016 mempunyai nilai komposit 7,27 dengan predikat sehat, tercermin dari kondisi permodalan dengan CAR yang berada diatas ketentuan minimum Bank Indonesia,  kualitas asset yang cukup baik dengan NPF berada dibawah standar Bank Indonesia. Dari aspek  profitabilitas, ROA dan  ROE  masih mampu mengenerate income. Namun rasio efisiensi yang tercermin dalam  pengelolaan BOPO dan  biaya operasional belum cukup memadai dan berada di atas quality level. BANK SYARIAH MANDIRI dinilai mampu mengatasi kesulitan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dalam hal terjadi kredit macet karena pencadangan aset diatas 100%. Demikian juga dari aspek likuiditas, rasio  liquid asset terhadap total asset sangat memadai dengan rasio diatas batas minimal 20%.

Penulis: desman reiner siahaan

Peringkat Bank

In: Peringkat Bank Uncategorized

Bank Capital       Pertumbuhan Capital CAR Capital to Total Assets PT. BPR Parasari 20,87% 26,22% 20,94% PT. BPR Cahaya Artha Bali 32,91% 15,95% 13,13% PT. BPR Saraswati Ekabumi 28,99% 15,52% 11,73% PT. BPR Pedungan 4,32% 31,13% 24,31% PT. BPR Pasar Raya Kuta 37,04% 12,82% 10,39% PT. BPR Santi…

In: Peringkat Bank Uncategorized

Bank Capital Pertumbuhan Capital CAR Tier 1 Capital to Total Capital Capital to Total Assets BTPN Syariah 22,32% 19,96% 99,26% 20,50% BCA Syariah 40,40% 34,33% 97,38% 24,61% Bank Syariah Bukopin 17,78% 17,50% 88,18% 11,85% BNI Syariah 11,08% 15,48% 91,57% 9,79% Bank BRI Syariah 24,69% 15,79% 94,92% 9,67% Bank Syariah Mandiri…

In: Peringkat Bank Uncategorized

Bank Capital Pertumbuhan Capital CAR Tier 1 Capital to Total Capital Capital to Total Assets Bank Kalbar 33,05% 21,76% 91,42% 13,21% Bank Sulteng 38,08% 27,85% 95,14% 12,32% Bank Yogyakarta 37,59% 20,22% 94,94% 13,82% Bank NTT 33,35% 23,49% 95,86% 15,17% Bank NTB 49,66% 27,59% 91,33% 17,46% Bank Mandiri Taspen Pos 257,24%…

In: Peringkat Bank Uncategorized

Bank Capital Pertumbuhan Capital CAR Tier 1 Capital to Total Capital Capital to Total Assets Bank Aceh 11,50% 19,44% 86,85% 10,58% Bank Mestika 17,20% 28,26% 97,14% 24,27% Bank Jateng 19,47% 14,87% 94,10% 8,18% Bank Jatim 3,16% 21,22% 95,43% 13,59% Bank Sulselbar 18,82% 27,63% 78,20% 17,46% BPD Bali 38,05% 24,44% 79,72%…

In: Peringkat Bank Uncategorized

Bank *) Capital Pertumbuhan Capital CAR Tier 1 Capital to Total Capital Capital to Total Assets Bank OCBC NISP 13,85% 17,32% 92,96% 14,52% Bank Mega 62,88% 22,85% 100,00% 15,06% Bank Bukopin 21,65% 13,56% 78,19% 9,39% Bank Mizuho Indonesia 15,13% 21,21% 94,47% 17,33% Bank Danamon 10,88% 20,84% 95,68% 16,93% Bank BTPN…

Rasio Bank

In: Rasio Bank

Nama Bank : PT. CIMB Niaga ,Tbk Buku Bank : 3 Predikat Berdasarkan nilai komposit : Cukup Sehat

In: Rasio Bank

Nama Bank : PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO), Tbk Buku Bank : 4 Predikat Berdasarkan nilai komposit : Sangat Sehat

In: Triwulan 3 2015 Uncategorized

Nama Bank : Bank UOB Buku Bank : 3 Predikat berdasarkan Nilai Komposit : Kurang Sehat   Capital: Ratio Q32015 Q32014 *) Growth Capital (Rp Juta) 11,106,772 10,771,760 3.11% ATMR risiko kredit, operasional dan pasar(Rp Juta) 71,784,011 65,215,543 10.07% CAR 15.47% 16.52% -6.36% Tier 1 Capital to Total Capital 85.09%…

In: Triwulan 3 2015 Uncategorized

Nama Bank : Bank Sumitomo Mitsui Buku Bank : 3 Predikat berdasarkan Nilai Komposit : Cukup Sehat   Capital: Ratio Q32015 Q32014 *) Growth Capital (Rp Juta) 10,364,592 8,616,605 20.29% ATMR risiko kredit, operasional dan pasar(Rp Juta) 42,920,551 33,399,256 28.51% CAR 24.15% 25.80% -6.40% Tier 1 Capital to Total Capital…

In: Triwulan 3 2015 Uncategorized

Nama Bank : Bank Permata Buku Bank : 3 Predikat berdasarkan Nilai Komposit : Cukup Sehat   Capital: Ratio Q32015 Q32014 *) Growth Capital (Rp Juta) 20,349,541 18,843,249 7.99% ATMR risiko kredit, operasional dan pasar(Rp Juta) 149,452,367 142,900,293 4.59% CAR 13.62% 13.19% 3.26% Tier 1 Capital to Total Capital 67.91%…