Analisa kinerja keuangan BNI per 31 Desember 2014

bni-46-720x720Analisa keuangan BNI dilakukan berdasarkan data bank (bank only) dari laporan keuangan triwulanan per 31 Desember 2013 yang telah telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Tanudiredja, Wibisana & Rekan – a member firm of PwC Global Network dengan partner penanggung jawab Drs. Haryanto Sahari, CPA dengan pendapat wajar tanpa pengecualian. Adapun kinerja keuangan berdasarkan laporan keuangan triwulanan tersebut menunjukkan kondisi sebagai berikut:

Capital:

Ratio 31-Dec-14 31-Dec-13 Growth Peer Group 2014*)
Capital (Rp Juta) 50,352,050 43,563,420 13.48% 15.94%
ATMR risiko kredit, operasional dan pasar (Rp juta) 310,485,402 288,616,781 7.04% 8.78%
CAR 16.22% 15.09% 6.97% 16.92%
Tier 1 Capital to Total Capital 94.57% 93.91% 0.70% 94.43%
Capital to Total Assets 12.80% 11.75% 8.17% 11.91%
*) peer group terdiri dari yaitu Bank Mandiri, Bank BRI dan Bank BCA.

Pada tahun 2014, capital BNI mencapai Rp. 50.352 miliar meningkat sebesar 13.48% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan modal ini lebih rendah dari peer group tahun 2014 yang sebesar 15.94%. Peningkatan modal tahun 2014 antara lain dikarenakan adanya laba tahun berjalan sebesar Rp 10.515 miliar.

BNI adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) karena sahamnya dimiliki oleh negara Republik Indonesia sebesar 60% dan sisanya sebesar 40% dimiliki oleh masyarakat.

Pada 31 Desember 2014 ATMR yang mempunyai risiko kredit, risiko operasional dan risiko pasar meningkat sebesar 7.04%, dan berada di bawah pertumbuhan peer group tahun 2014 yang 8.78%. CAR naik 6.97% menjadi 16.22% dibanding tahun 2013, dan berada di bawah rata-rata CAR peer group tahun 2014 sebesar 16.92%, dan masih diatas ketentuan CAR minimum Bank Indonesia yang saat ini sebesar 8% sampai dengan 14% sesuai dengan peringkat kesehatan dan profil risiko bank. Kenaikan CAR disebabkan karena pertumbuhan capital (13.48%) lebih tinggi dari pada pertumbuhan ATMR risiko kredit, operasional dan pasar (7.04%).

Rasio capital to total asset tahun 2013 – 2014 naik sebesar 8.17% menjadi sebesar 12.80%. Hal ini dikarenakan peningkatan modal lebih besar (13.48%) dari pada peningkatan total asset (5.78%). Rasio ini menunjukkan coverage equity dalam menyerap kerugian terhadap total asset meningkat dari tahun 2013 yang sebesar 11.75% menjadi 12.80% di tahun 2014.

Rasio modal inti atau tier 1 capital terhadap total capital selama kurun waktu 2013 – 2014 berada di atas level 80%. Porsi tier 1 capital tehadap total capital tersebut tergolong baik.

Secara umum, kondisi permodalan BNI tergolong kuat dengan level quality CAR berada diatas ketentuan minimum Bank Indonesia, dengan didukung oleh porsi tier 1 capital yang berada di atas level 80%.

Asset Quality :

Ratio 31-Dec-14 31-Dec-13 Growth Peer Group 2014*)
Total Asset (Rp Juta) 393,466,672 370,716,158 5.78% 13.02%
Gross Loans (Rp Juta) 262,577,901 239,363,451 8.84% 10.82%
NPL to Gross Loan 1.96% 2.17% -10.71% 1.48%
NPL Net 0.39% 0.55% -41.03% 0.35%
CKPN to Aset Produktif 1.74% 1.93% -10.92% 2.10%
Loan Loss Provisions to Gross Loan 1.36% 1.13% 16.50% 1.19%
Pemenuhan PPA 121.67% 110.82% 8.92% 127.91%

Total asset BNI tahun 2014 naik sebesar 5.78% menjadi Rp. 393.466 miliar dibanding tahun 2013, seiring dengan pertumbuhan kredit yang mencapai 8.84%.

Tahun 20132014 saat likuiditas ketat dan suku bunga tinggi, Loans BNI tumbuh sebesar 8.84%, sementara rata-rata pertumbuhan peer group mencapai 10.82%. Bila dilihat dari rasio NPL Gross tahun 2014, kualitas kredit dinilai sangat baik dengan trend NPL menurun dari 2.17% pada tahun 2013 menjadi 1.96% tahun 2014. Rasio CKPN terhadap aset produktif menunjukkan bahwa aset produktif bermasalah tahun 2014 relatif kecil yaitu 1.74%. Dan rasio NPL net tahun 2014 sebesar 0.39%, masih jauh berada di bawah ketentuan Bank Indonesia yang maksimal sebesar 5%.

Rasio loan loss provision to gross loan yang tahun 2014 sebesar 1.36% dan 2013 sebesar 1.13% menunjukkan bahwa biaya kerugian penurunan nilai dan hapus buku kredit dibandingkan dengan total kredit relatif kecil.

Rasio pemenuhan PPA (penyisihan penghapusan aset) tahun 2013 – 2014 menunjukkan trend meningkat dari 110.82% menjadi 121.67%. Yang mencerminkan manajemen BNI hati-hati dalam menyediakan pencadangan yang cukup memadai karena berada di atas 100%. Dengan rasio tersebut menunjukkan bahwa potensi kerugian karena non performing asset sepenuhnya telah tercover dari PPA yang dibentuk.

Secara umum, kualitas asset BNI tergolong sangat baik karena rasio NPL di bawah ketentuan Bank Indonesia, dan coverage ratio atas aset bermasalah telah dicover dengan pencadangan yang cukup.

Earning & Efficiency:

Ratio 31-Dec-14 31-Dec-13 Growth Peer Group 2014*)
Total Profit (Rp Juta) 10,515,588 8,881,963 18.39% 14.18%
ROE 23.64% 22.47% 5.21% 26.54%
ROA 3.49% 3.36% 3.87% 3.92%
BOPO 69.78% 67.12% 3.96% 65.64%
Biaya operasional non bunga to total aset 4.84% 4.19% 15.64% 4.01%
Biaya operasional non bunga to pendapatan bunga 60.94% 61.88% -1.53% 50.34%
NIM 6.20% 6.11% 1.47% 6.80%
Funding Cost 3.43% 2.47% 39.00% 3.30%
Fee Based Income to Total Income 11.45% 11.05% 3.65% 10.89%

Total profit tahun 2014 meningkat sebesar 18.39% dibanding tahun 2013, dan berada di atas peer group yang 14.18%, yang berarti perseroan tetap menunjukkan trend stability dalam mengenerate income. ROE BNI tahun 2013 – 2014 meningkat tipis dari 22.47% menjadi 23.64%. Hal ini karena peningkatan laba (18.39%) lebih besar dibandingkan peningkatan equity (13.48%). ROE tahun 2014 masih berada jauh di atas quality level 8% (rata-rata suku bunga deposito). Ini mencerminkan efektifitas permodalan BNI dalam menciptakan laba sangat optimal.

Rasio ROA BNI tahun 2014 juga stabil di angka 3% dengan trend meningkat dari tahun 2013. Angka ini dinilai sangat baik karena melampaui quality level diatas 1%. Sementara rata-rata ROA peer group berada di angka 3,92%.

Rasio BOPO tahun 2013 – 2014 dapat tetap dipertahankan di bawah batas normal 70% yaitu sebesar 67.12% dan 69.78% dinilai bagus. Rasio Ini mencerminkan komitmen manajemen BNI untuk terus secara berkelanjutan meningkatkan efisiensi.

Namun rasio biaya operasional non bunga dibandingkan total aset pada tahun 2013 sebesar 4.19% dan 2014 sebesar 4.84%, berada di atas angka normal 3.50%. Demikian juga berdasarkan perhitungan rasio biaya operasional dibanding pendapatan bunga pada tahun 2013 sebesar 61.88% dan 2014 sebesar 60.94%, berada di atas batas 50%. Angka ini mencerminkan bank masih perlu lebih efisien dalam mengelola biaya operasional selain bunga, khususnya untuk penurunan nilai wajar aset keuangan transaksi spot dan derivatif pada tahun 2014 yang mencapai Rp 2.474 miliar.

NIM BNI selama 2 tahun terakhir relatif stabil dan tahun 2014 meningkat menjadi 6.20%, dinilai baik karena berada di atas quality level 3%. Sementara NIM rata-rata peer group tahun 2014 mencapai 6,80%.

Seiring dengan meningkatnya BI rate menjadi 7.75% di November 2014 dan diikuti dengan ketatnya likuiditas, funding cost BNI 2014 meningkat cukup signifikan sebesar 39.00% menjadi 3.43% dibanding tahun 2013 yang 2.47%. Kenaikan ini disebabkan peningkatan beban bunga (39.00%) lebih besar dari pada peningkatan customer deposit atau Dana Pihak Ketiga (6.16%). Angka rasio biaya dana yang relatif kecil ini juga mencerminkan bahwa struktur dana BNI masih didominasi pada dana murah giro dan tabungan (low cost deposit) dibandingkan total dana pihak ketiga yang tahun 2014 mencapai sebesar 65.66%.

Pendapatan fee based income di tahun 2013 – 2014 meningkat tipis dari 11.05% menjadi 11.45%. Pendapatan provisi komisi ini cukup berkontribusi dalam meningkatkan laba perseroan serta berada lebih tinggi dari peer group yang 10.89%.

Secara umum kondisi profitabilitas dan efesiensi BNI tergolong sangat baik, dan secara rasio cenderung meningkat yang didukung oleh struktur dana murah, dengan catatan perlu lebih efisien dalam mengelola biaya operasional selain bunga.

Liquidity:

Ratio 31-Dec-14 31-Dec-13 Growth Peer Group 2014*)
Customer Deposit (Rp Juta) 299,021,042 280,612,823 6.16% 11.76%
Low Cost Deposit 65.66% 68.94% -5.00% 63.87%
Loans Deposit Ratio 87.81% 85.30% 2.86% 82.07%
Liquid Asset to Total Asset 23.60% 27.38% -16.01% 24.05%
Liquid Asset to Customer Deposit 31.06% 36.17% -16.47% 30.86%
Interbank Ratio 484.24% 324.61% 32.97% 264.68%

Customer deposit tahun 2014 meningkat sebesar 6.16% menjadi Rp. 299.021 miliar. Hal ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap BNI meningkat. Dan dominasi low cost deposit terhadap proporsi dana pihak ketiga tahun 2014 mencapai 65.66% dan berada diatas peer group yang 63.87%.

Rasio LDR dari tahun 2014 meningkat dibanding tahun 2013 menjadi sebesar 87.81%. Peningkatan ini antara lain dikarenakan peningkatan loan yang tahun 2014 tumbuh lebih besar (12.26%) dibandingkan peningkatan DPK (6.16%). LDR BNI tahun 2014 berada diatas LDR peer group yang sebesar 82.07%. LDR ini dinilai sudah mendekati ambang batas maksimal 92% dalam menyalurkan kredit yang menggunakan dana pihak ketiga.

Rasio liquid asset terhadap total asset selama periode 2013 – 2014 berada 27.38% dan 23.60%. Ketersediaan likuid asset diatas 20% ini dinilai cukup memadai sebagai reserve untuk mendukung likuiditas. Demikian juga rasio likuid aset terhadap DPK yang tahun 2014 berada 31.06% sangat memadai untuk ketersediaan likuiditas.

Bila dilihat dari interbank ratio yang berada jauh diatas 100% sejak 2013 – 2014, BNI memiliki peran sebagai net lender di interbank money market atau pinjaman antar bank, yang berarti BNI mempunyai likuiditas yang berlebih dan menempatkan excess fundnya di interbank.

Secara umum likuiditas BNI tergolong sangat memadai dilihat dari LDR yang berada di bawah 92% dan didukung oleh level of liquid asset yang cukup serta peranan BNI sebagai net lender di interbank.

Summary

Kondisi keuangan BNI tahun 2013 – 2014 dinilai sangat sehat tercermin dari kondisi permodalan dengan CAR yang berada diatas ketentuan minimum Bank Indonesia, kualitas asset yang sangat baik dengan NPL yang berada dibawah standar Bank Indonesia dan level of liquidity yang cukup. Dari segi profitabilitas, ROA, ROE serta BOPO cukup memadai dan berada di atas quality level. Sementara penyediaan pencadangan aset bermasalah berada diatas 100% yang menunjukkan bahwa potensi kerugian karena non performing aset sepenuhnya tercover dari penyisihan penghapusan aset yang dibentuk. Serta BNI dinilai mampu mengatasi kesulitan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya karena rasio liquid asset to total asset berada di atas quality level 20% serta dominan sebagai net lender. Ke depan, BNI perlu meningkatkan penghimpunan DPK agar dapat melakukan ekspansi kredit yang cukup besar karena angka LDR hampir mendekati batas atas 92%, dan perlu lebih efisien dalam pengelolaan biaya operasional selain bunga.

Penulis: reiner